LAPORAN
SEMESTER PRAKTIKUM
BIOKIMIA
Oleh
:
Kreslita
Simbolon
E10014026
FAKULTAS
PETERNAKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan HidayahNya penulis dapat
menyelesaikan Laporan Semester Biokimia
ini dengan tepat waktu.
Laporan praktikum ini penulis susun
sebagai wujud realisasi dari hasil pengamatan yang telah penulis lakukan
sebelumnya dan juga sebagai bahan pelengkap persyaratan yang menunjang mata
kuliah Biokimia . Laporan ini penulis susun khususnya untuk lingkup Fakultas
Peternakan Unja, akan tetapi tidak menutup untuk keperluan atau lingkup yang
lebih luas.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan
laporan ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya.
Namun demikian, penulis telah berusaha dengan segala kemampuan dan pengetahuan
yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik. Penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan laporan-laporan praktikum
penulis selanjutnya. Semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi kita semua, amin.
Jambi, April 2015
Penulis
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Biokimia adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang proses kimia atau reaksi kimia yang terjadi di dalam zat
hidup (sel hidup, makhluk hidup), baik itu mokroorganisme, tanaman,
invertebrata avertebrata, hewan menyusui dan manusia. Dalam hal ini, dapat kita
ketahui bagaimana kumpulan zat hidup bercampur atau bereaksi menghasilkan zat.
yang disebut dengan zat hidup. Dan peranan biokimia ini adalah sebagai dasar
pengembangan pengetahuan dasar kedokteran, pertanian, peternakan, biologi, mikrobiologi,
dan yang lainnya, yang erat hubungannya.
Kegiatan praktikum Biokimia Dasar merupakan komponen
penunjang aktivitas perkuliahan. Latar belakang diadakannya praktikum tersebut
agar mahasiswa dapat mengetahui dan mengenal apa-apa saja yang dipelajari di
dalam mata kuliah Biokimia ini. Mulai dari Protein dan Asam amino, Karbohidrat,
Lipida sampai dengan Enzim.
Protein merupakan makromolekul terbanyak yang dapat ditemui
dalam sel hidup, yang merupakan komponen penting dan utama untuk sel hewan dan
sel manusia. Protein dapat diisolasi dari seluruh sel ke bagian sel. Dalam hal
ini, protein mempunyai peranan penting dalam biologi yang sangat penting,
sebagai zat pembenfuk, transport, katalisataor reaksi kimia, hormon, racun, dan
yang lainnya. Protein ini mempunyai empat fungsi utamanya yaitu untuk
memperbaiki jaringan yang rusak untuk pertumbuhan jaringan baru, sebagai enzim,
dan sebagai hormon. Sifat fisik dan kimia protein tersebut sangat beragam
diantaranya: ukuran, berat molekul, kelarutan, konformasi tiga dimensi, susunan
dan deret asam amino penyusunnya yang sngat mempengaruh semua factor tersebut.
Protein juga merupakan senyawa organik kompleks yang
terbentuk bila senyawa organik bergabung satu sama lain dalam polimer. Di alam
kita dapat menjumpai ribuan jenis protein yang melangsungkan fungsi hayati yang
bermacam-macam, sifat fisik dan kimia protein yang terjadi sangat beragam,
misalnya ukuran, berat, molekul, kelarutan dan lain-lain, namun demikian semua
protein alami pasti tersusun atas 20 jenis asam amino. Pengaruh beberapa
parameter terhadap kelarutan protein yaitu : kekuatan ion, pH, suhu, dan
konstanta dielektrk. Sifat- sifat asam amino adalah sifat asam basa titik
isoelektrik dan aktivitas optik. Komposisi asam amino protein yaitu formula
asam amino, ikatan peptida isolasi protein, dan denaturasi. Denaturasi adalah
proses yang mengubah susunan ruang konfigurasi tiga dimensi molekul protein dan
struktur molekul asli/awal yang teratur menjadi tidak teratur lagi. Denaturasi
dapat terjadi oleh beberapa faktor antara lain fisika (panas, tekanan,
pembekuan, gaya permukaan, sinar X dan radiasi ultra violet), kimia (pH ekshim,
pelarut organik, amida dan turunannya), dan biologis ( enzim-enzim proteolitik,
denaturasi terjadi sebelum hidrolisis).
Asam amino merupakan senyawa organik yang mengandung gugus
amino dan karboksil. Alam amino umumnya mudah larut dalam air, dan hanya
sedikit atau bahkan tidak larut dalam pelarut organik, dan titik leburnya
sangat tinggi Asam amino dibebaskan dari ikatan peptida pada hidrolisi enzim
(protease) atau asam, dan asam amino dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya
dengan cara kromatografi. Semua asam amino mengandung gugus fungsional yang
dapat bekerja sebagai asam atau basa tergantung pada pH lingkungan. Dalam
protein terdapat proses denaturasi yang berkaitan dengan tergantungnya ikatan
atau interaksi kimiawi antar molekul.
Karbohirat merupakan senyawa organik yang paling berlimpah
di bumi ini, yang tersusun terutama oleh monosakarida. Sebagian besar zat-zat
alam merupakan golongan karbohirat fungsinya sebagai bahan baku (bahan sumber
energi) baik untuk mikroorganime, tumbuhan maupun hewan. Karbohidrat terdiri
dari Monosakarida, yang merupakan senyawa orgarnik yang sangat banyak terdapat
dibumi ini.Karbohidrat dapat dibagi menjadi Monosakarida, Oligosakarisa dan
Polisakarida.
Karbohidrat sering disebut dengan sakar, yang terbentuk pada
proses fotosintesis sehingga merupakan senyawa perantara awal dalam penyatuan
CO2, Hidrogen, Oksigen, dan energi matahari ke dalam bentuk hayati.
Karbohidrat merupakan sumber karbon untuk sintesa biomolekul dan sebagai bentuk
energy poiimerik, dan komponen dari unsur- unsur struktural sel dan merupakan
bagian dari asam nukleat. Dan karbohidrat ini mengandung komponen utama dan
paling utama yaitu monosakarida.
Karbohidrat merupakan komponen penting pada beberapa senyawa
seperti dinding sel tanaman bakteri, mukopolisakarida kulit dan jaringan
pengikat pada hewan. Karbohidrat dibagi atas monosakarida seperti
fruktosa" glukosa, manosa galaktosa dan sebagainya.Komponen gula yang
terdiri 6 atom C, disakarida (2 komponen monosakarida), oligosakarida (3-6
komponen monosakarida) ditentukan juga oleh gugus yang karakteristik sebagai
aldoheksosa atau ketoheksosa. Monomer monosakarida merupakan senyawa aldosa
atau ketosa yang dinamakan sesuai dengan jumlah karton pada eantainya. Mengenai
struktur senyawa karbohidrat dikenal sistem terbuka dari E. Fischer, terfutup
dari Tollens, dan berbanding yang diproyeksikan dari Harworth. Pembagian
selengkapanya dari karbohidrat adalah sebagai berikut monosakarida disebut juga
gula sederhana diosa, triosa, tetrosa dan pentosa (arabinosa, xylosa dan
ribosa), heksosa (glukosa, fruktosa galaktosa dan manosa). Kedua oligosakarida
yaitu di, tri, tera, penta dan heksasakarida (disakarida terdiri sukrosa
maltosa, laktosa), dan ketiga polisakarida yaitu amilum, glikogen, dekstrin,
dan selulosa.
Karbohidrat ini tersusun oleh tiga bagaian yaitu
polihidroksi aldehid, polihidroksi protease, dan polihidroksi keton.
Karbohidrat terdiri dari tiga bagian diantaranya monosakaraida, oligosakarida,
dan polisakarida.
Lipida merupakan komponen sel atau jaringan yang terdiri
atas beraneka ragam senyawa yang sebagian besar hanya larut dalam pelarut
organik. Lipida tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organiknya,
berupa: eter, kloroform, benzen, alcohol, bensin, dan tetra yang karena
sebagian besar tergolong gugus lipofil. Secara sederhana lipida terdiri dari
asil gliserol, fosfolipida, sfingolipida, glikolipida, lipida terpen, termasuk
korotenoid, dan steroid. Dalam lipida ini terdapat dua komponen utama yaitu
lemak (olive), dan minyak (oil). Lemak lebih banyak ditemukan pada hewan, dan
minyak lebih banyak diperoleh dari tumbuh- tumbuhan.
Di alam terdapat sebagai lemak yang netral dan disamping
zat-zat yang menyerupai lemak (lipoid). Lipida terutama disusun atas rantai
hidrokarbon panjang beiantai lurus, bercabang atau membuat stnrktur siklis.
Lipida kompleks mengandung komponen non lipida seperti fosfat pada lipida
protein pada proteolipida atau pada glukolipida. Trigleserida atau hiasil
gliserol merupakan molekul tidak bermuatan dan dikenal juga sebagai lipida
nehal, lemak atau minyak sederhana. Trigleserida merupakan bagian lipida yang
dikonsumsi. Trigleserida terurai menjadi komponen penyusun oleh lipase.
Fosfolipida merupakan turunan tiasil gliserol yang salah satu komponen asam
lemaknya oleh senyawa fosfat. Fosfolipida yang sering dijumpai dialam adalah
lesitin, sefalin" fosfogliserida serin, fosfogleserida inositol.
Trigliserida disebut juga lipid Netral, yang merupakan
molekul yang tidak bermutan. Sedangkan Enzim protein yang disentesis oleh sel
hidup untuk mengktalisis reaksi yang berlangsung didalamnya.
Enzim merupakan protein yang disentesis
oleh sel hidup untuk mengkatalisasi reaksi yang berlangsung didalamnya. Oleh
karena reaksi yang enzimatis sangat bervariasi, maka biokatalisator yang
dibentuk, jumlah maupun jenisnya tak terhitung banyaknya. Enzim merupakan
biokatalisator dengan spesifikasi dan efisiensi tinggi. Enzim dapat diproduksi
dengan cara mengektraksi dari jaringan tanaman atau hewan dan mikroorganisme.
Cara ini memiliki beberapa kelemahan,
sehinggga yang sering dan umum dilakukan adalah cara membiakkan mikroba
penghasil enzim yang dikehendaki pada media tertentu kemudin diektraksi.
Keuntungan memproduksi enzim dari mikroba antara lain biaya produksi lebih
rendah, dapat di produksi dalam waktu singkat serta mudah dikontrol. Kecepatan
produksi enzim dapat lebih ditingkatkan dengan mengunakan strain mikroba,
induksi mutan dan perbaikan kondisi kultur pertumbuhannya.
Enzim secara khasnya disebut dengan katalisator yaitu dapat
mempercepat terjadinya suatu reaksi, tetapi pada umumnya tidak ikut muncul
dalam perekasian tersebut. Enzim ini juga merupakan protein yang disintesis
oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya, enzim
ini juga disebut biokatalisator dengan spesifisitas dan efisiensi tinggi. Enzim
ini diproduksi dengan cara mengekstraksi dari jaringan tanaman atau hewan dan
mikroorganisme. Di dalam tubuh enzim ini sangat dibutuhkan oleh jaringan tubuh
kita, karena jika tidak ada enzim maka proses reaksi ditubuh kita akan berjalan
lambat. Sebagai parameter dari reaksi enzimatis yang diketahui dalam penelitian
yaitu Kmax dan Vmax yang menyatakan bahwa semakin murni suatu enzim maka akan
semakin tinggi pula spesifik aktifitasnya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum
biokimia dasar yang berjudul “Protein
dan asam amino” adalah untuk melihat daya larut berbagai asam amino
dalam pelarut, mampu mengidentifikasi
asam α-amino dan mengidentifikasi asam amino yang mengandung gugus fendik
(tirosin)
Tujuan dari praktikum
yang berjudul “Karbohidrat” ada
4, yaitu: pertama, untuk mengetahui terjadinya fermentasi yang
dilakukakan oleh sel ragi. Kedua, untuk menguji adanya karbohidrat dari
beberapa bahan yang di uji (secara umum). Ketiga, digunakan sebagai uji
umum karbohidrat dapat digunakan untuk menentukan semua macam karbohidrat. Dan
terakhir digunakan untuk pemeriksaan adanya gugus keton pada gula (Fruktosa)
juga dapat digunakan aldeheksora (glukosa), tetapi reaksinya agak lambat.
Tujuan dari praktikum yang berjudul “Lipida” adalah untuk melihat daya larutan lipida dan asam-asam lemak dalam
berbagai pelarut dan mengamati keadaan
emulsi dari lemak dan zat yang bertindak sebagai emulgatur.
Adapun tujuan dari praktikum “Enzim”
adalah untuk mengetahui pengaruh enzim papain dalam krim santan
kelapa untuk menghasilkan minyak, dan juga untuk mengetahui volume dan mutu
dari minyak yang dihasilkan.
1.3 Manfaat
Manfaat yang dapat kita peroleh dari praktikum ini adalah
dengan adanya hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat
digunakan sebagi titik acuan dan bahan perbandingan didalam menjawab segala
permasalahan tentang pengujian dari bagian-bagian Biokimia Dasar tersebut, serta masukan bagi kita semua di dalam mata
kuliah biokimia tersebut, dan menjadi syarat di dalam memenuhi tugas praktikum
dan mata kuliah biokimia dasar ini. Serta dari praktikum ini kita dapat
mengetahui tekhnik atau cara dalan melakukan pengukuran larutan. Selain itu
juga dapat mengenal alat-alat yang digunakan di iaboratorium ini beserta fungsi
alat tersebut.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Anwar M (1990), bahwa asam amino merupakan satuan penyusun
protein,berdaarkan rumus bangunnya asam amino dapat dipandang sebagai turunan
asam karboksilat, yang satu atom hidrogennya digantikan oleh gugus amino.
Abas (1999)
Semua asam
amino, atau peptida yang mengandung 2 amino bebas akan beraksi dengan ninhidrin
membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan
hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning.
Addi Krisbyanto (2008) Protein adalah
senyawa penting menyusun sel hidup. Senyawa ini tedapat semua jaringan hidup
baik tumbuhan maupun tumbuhan. Fungsin protein sangat beragam antara lain
sebagai pembangun, pengatur, pertahanan, dan sebagai sumber energi. Dalam bahasa
yunani protein berarti “pengikat satu” dan “yang utama”. Asam amino adalah satu
golongan senyawa karbon yang setidaknya Mengandung satu karboksil (-COOH) dan
satu gugusan animo (-NH2).
Allen (1998), menyatalian bahwa asirm-asam amino adalah unit
dasar dari struktur protein.
Argham (1990) Kelarutan
protein didalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain, PH, Suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik
pelarutnya.
Dryer (1993), protein dicerna sebagai asam amino penyusun ya
oleh enzim proteolitik dan peptidase yang ada didalam saluran gastroitetinal.
Dickerson (1998), asam amino merupakan suatu penyusunan protein dan dapat dibedakan menjadi
Monosakarida, disakarida, Oligosakarida.
Doohan, James (1990), menyatakan bahwa protein dapat larut
dalam air dan jika dipanaskan dapat membeku.
E.Jhon (1992), Uji millon digunakan untuk menentukan larutan
benzene.
Edman (1990), menyatakan bahwa peptida dilihat dari
strukrurnya tergolong amida asam dan merupakan senyawa majemuk yang dapat
diuraikan melalui hidrolise menjadi aasam amino.
Fetien Yarid (2006), Protein
bersifat amfoter, yaitu dapat beraksi dengan larutan asam maupun basa. Daya
larut protein berbeda didalam air, asam dan basa sebagian ada yang mudah larut
. dan ada pula yang sukar laut. Apabila protein tidak larut lemak seperti eter
atau kloroform. Apabila protein dipanaskan atau diditambahkan etanol absolut
maka protein menggumpul (terkoagulasi). Hal ini diaebabkan etanol menarik
mental air yang melengkapi molekul-molekul protein.Gunsrone {1999), yang menyatakan
bahwa campuran asam amino merupakan campuran yang dapat berubah-ubah wamannya.
Semua ini tergantung pada penambahan HCL.
Jaru Anwar (1999), menyatakan bahwa asam amino adalah
senyawa anorganik yang mengandung gugus karboksil dengan demikian mempunyai
sifat asam basa.
Kurnia Kusnawidjaja (1993) Uji millon,
dengn percobaan millon albumia berlangsung positif, karein juga positif, tetapi
untuk gelarin negatif, jika mungkin positif lemah sekali, gelarin mengandung
sedikit sekali tirosin
Conway (2007),Pada percobaan ninhidrin didapat hasil yaitu
asam amino berupa ahnin setelah di panaskan
dengan campuran ninhidrin pada penangas air warnanya berubah menjadi
biru pekat. Hal ini juga disesuaikan dengan pendapat yang menyatakan bahwa asam
amino yang dipisahkan direaksikan dengan ninhidrin untuk mengahsilkan warna
biru – ungu.
Jaru Anwar (2001), menyatakan bahwa asam amino adalah
senyawa anorganik yang mengandung gugus karboksil dengan demikian mempunyai
sifat asam-basa.
Novita (2009) uji ninhidrin adalah uji umum untuk protein
dan asam amino .Ninhidrin dapat mengubah
asam amino menjadi suatu alhdehida.
(Poedjiadi 2004), Kelarutan protein di dalam suatu cairan,
sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu,
kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya.Protein seperti asam amino
bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda.
(Rahani,2002),Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi
dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam,
dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut.Namun, semua protein
tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform.
Reithel (1999) yang
menyatakan bahwa cara untuk mengklasifikasikan asam amino ada beberapa cara
antara lain cara mendasar pada jumlah gugus karboksilat dan gugus asam amino
yang terkandung oleh senyawa itu.
Riawan (2000) protein memiliki molekul besar dengan berat
molekul yang bervariasi antara 5000
hingga jutaaan dengan hidrolisis oleh asam atau oleh enzim protein akan
mengahasilkan asam amino, ada 20 jenis asam amino yang terdapat pada molekul
protein.
Santoso (2008) yang menyatakan bahwa ninhidrin bereaksi
dengan asam amino bebas dan protein menghasilkan warna biru.
Alfi Darwis (2011), menyatakan bahwa
kelompok-kelompok besar dari lipid mempunyai sifat kelarutan yang berbeda-beda
dan sifat ini dugunakan untuk ektraksi dan pemisahan dari bahan biologis.
Endapan yang terjadi adalah lesitin(fosfolipid). Lesitin atau fosfatidilkolin
adalah senyawa fosfogliserol yang mengandung kolin (lesitin mengandung
gliserol, asam lemak, asam fosfat, dan kolin). Senyawa ini adalah fosfolipid
kolin terdapat dengan jumlah terbanyak di dalam membran sel dan menunjukkan
proporsi simpanan kolin yang besar pada tubuh. Kolin sangat penting dalam
proses transmisi saraf dan sebagai simpanan, gugus metil yang labil. Lesitin
dapat diperoleh dari kuning telur. Pemisahan fosfatidilkolin dari lemak dan
kolesterol dilakukan dengan pelarut eter dan aseton. Lesitin memiliki gugus
kolin yang bermuatan positif sehingga lebih larut dalam eter dan kurang larut
dalam aseton. Hal ini disebabkan eter memiliki elektron bebas yang dapat
diserang oleh muatan positif dari kolin sehingga kolin lebih larut dalam eter
daripada aseton yang tidak memiliki elektron bebas. Filtrat yang diperoleh dari
penyaringan lesitin (eter-aseton) diuapkan diatas waterbath hingga menghasilkan
suatu pasta.
Murray (2006), menyatakan bahwa lemak lebih banyak ditemukan pada hewan, dan
minyak lebih banyak diperoleh dari tumbuh- tumbuhan. Lipid digolongkan kedalam
lipid sederhana dan lipid majemuk. Lipid sederhana contohnya adalah lemak,
minyak, dan lilin atau wax. Sedangkan lemak majemuk contohnya seperti
fosfolipid, sfingolipid, lipoprotein, dan isoprenoid.
Priadi ( 2009), menyatakan bahwa
lipid atau masyarakat sering menganggapnya sebagai lemak adalah senyawa organik
yang tidak dapat larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik
(nonpolar), seperti: kloroform, eter, dan minyak tanah. Molekul lemak tersusun
dari unsur-unsur C, H, O, dan terkadang terdapat unsur P dan N. Lemak umumnya
disusun oleh trigliserida (lemak netral) yang terdiri atas gliserol dan tiga
asam lemak. Berdasarkan tingkat kejenuhannya, asam lemak dapat dibagi menjadi
dua golongan, yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak
jenuh adalah asam lemak yang tidak mengandung ikatan rangkap. Misalnya asam
palmitat dan asam stearat yang terdapat pada lemak hewani. Sedangkan asam lemak
tak jenuh adalah asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang mengandung ikatan
rangkap. Misalnya, asam oleat dan asam linoleat yang terdapat pada lemak
nabati.
Roswiem (2006), menyatakan bahwa kolesterol
adalah salah satu jenis lipid yang digolongkan ke dalam isoprenoid yang
merupakan jenis steroid. Kolesterol adalah molekul penting pada hewan yang
berfungsi sebagai komponen membran sel, prekursor biosintesis hormon steroid,
Vitamin D, dan garam empedu. Kolesterol mempunyai 2 gugus metil yang terikat
pada atom C-13 dan C-10 dengan ikatan rangkap. Rantai cabang hidrokarbon
terikat pada atom C-17, sedangkan gugus fungsionil hidroksil terletak pada atom
C-3. Kolesterol disimpan di dalam sel sebagai ester asam lemak yang dihasilkan
dari reaksi esterifikasi oleh enzim asetil KoA: Kolesterol asiltransferase
(ACAT) di sitoplasma.
Salirawati (et al,2007), menyatakan bahwa
lipid adalah senyawa yang merupakan
ester dari asam lemak dengan gliserol yang kadang-kadang mengandung gugus lain.
Lipid tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic se[erti eter,
aseton, kloroform, dan benzene.
Salirawati (et al,2007) menyatakan
bahwa lemak digolongkan berdasarkan kejenuhan ikatan pada asam lemaknya. Adapun
penggolongannya adalah asam lemak jenuh dan tak jenuh.
Sunita, Almatsier ( 2005) menyatakan
bahwa istilah lipida meliputi senyawa-senyawa heterogen, termasuk lemak dan
minyak yang umumnya dikenal dalam makanan, malam, fosfolipida, sterol, dan
ikatan lain sejenis yang terdapat di dalam makanan dan tubuh manusia. Lipida
mempunyai sifat yang sama yaitu larut dalam pelarut nonpolar seperti etanol,
eter, kloroform, dan benzena.
Syamsu (2007), menyatakan bahwa HCl
yang ditambahkan akan menyumbangkan ion-ion hidrogennya yang dapat memecah
unsur lemak sehingga terbentuk lemak radikal bebas dan hidrogen radikal bebas.
Kedua bentuk radikal ini bersifat sangat reaktif dan pada tahap akhir oksidasi
akan dihasilkan peroksida.
Herikson (2003), menyatakan bahwa biokatalis yang sangat
efisien dan asam lemak berfungsi sebagai bahan bakar metabolik dan pembangunan
untuk lipid lain.
Brians (2001), menyatakna bahwa
lipida menggunakan komponen sel atau jaringan terdiri atas beraneka ragam
senyawa sebagian besar hanya larut dalam pelarut organik seperti eter,
kloroform, dan benzen.
Jhoq Kimball (2001), menyatakan
bahwa lipid adalah zat organik yang sangat hidrofobik yang berarti bahwa
zat-zat tersebut sukar/sam sekali tidak larut dalam air.
Ansell (2001), yang menyatakan bahwa
lipid merupakan asam lemak biasanya zat tersebut tidak larut dalam air akan
tetapi larut dalam pelarut non polar yaitu eter, chloroform, benzene.
Ekanarmi (2000), menyatakan bahwa
lipida (lemak) bahan baku merupakan penyusun fosfolipid suatu jenis lipid yang
merupakan penyusun membran sel organisme, salah satu contoh senyawa fosfolipid
adalh lesitin yang terdapat dalam otak danjaringan saraf,
Yuris, Brin (2000), menyatakan bahwa
emulsi merupakan sediaan yang mengandung zat yang tidak dapat bercampur
biasanya terdiri meinyak dan air dimana cairan yang satu terdispersi menjadi
butir-butir kecil dalam cairan yang
Yuntus (2001), menyatakan bahwa
emulsi merupakan sediaan yang obat cair atau larutan obat yang terdispersi
dalam cairan pembawa dan distabilkan oleh zat pengemulsinya atau surfaktan yang
cocok.
Zandrius (2001), menyatakan bahwa
sifat fisik lipid adalatr tidak dapat larut dalam air tetapi larut dala
satu/lebih pelarut organik misalnya eter, kloroform, benzen, dan sering disebut
pelarut lemak. Ada hubungan dengan asep lemak dan estery mempunyai kemungkinan
untuk digunakan oleh makhluk hidup.
Ftanley (2005), menyatakan bahwa
terjadinya emulsi tidak stabil dikarenakan larutan tersebut adanya lemak dan
air sedangkan emulgatornya didalam larutan tidak terdapat (ada) karena semua
tabung tersebut emulsi tidak stabil.
Weinberg (2003), menyatakan bahwa
lipid dikandung oleh organisme adalah lemak yaitu ester-ester dan gliserol
asam-asam (asam karboksil dengan rantai alkoholnya yang panjang).
Jameso Brends (2000), menyatakan
bahwa enzim sebagai katalisator karena erzirn se-bagai suatu zat yang dapat
mempercepat reaksi kimia tanpa ikut atau muncul dalam hasil reaksi.
Jhonson
(2002),menyatakan bahwa enzim yang berperan dalam ekstraksi
minyak kelapa adalah erzim yang
menghidrolisis makro molekul karbohidrat dan
protein (proteolitik)
Reybred (2003), menyatakan bahwa
enzim merupakan biokatalisator dengan spesifisitas dan efisiensi tinggi.
Ridwan (1990) Protein memiliki
molekul besar dengan berat molekul bervariasi antara 5000 hingga juataan.
Dengan cara hidrolisis oleh asam atau oleh enzim, protein akan menghasilkan
asam-asam amino.
Stone (2003), menyatakan bahwa
keuntungan memproduksi enzim dari miroba antara lain biaya produksi lebih
rendah dapat diproduksi dalam waktu singkat serta mudah dikontrol.
Vones (2002), menyatakan bahwa
aktivitas spesifik enzim merupakan parameter reaksi enzim yang dapat
mengambarkan daya kerja enzim yang bersangkutan.
Wibowo
(2001), yang menyatakan bahwa pada penambahan getah buah pepaya muda dengan
krim santan kelapa jika dicampur antara yang dengan yang lain maka dari warna
rasa dan baunya akan jauh berubah dari awalnya.
Wandi (2003), menyatakan bahwa hal
yang perlu diperhatikan karena enzim merupakan protein biokatalisator yaitu daya tahan pada pH, suhu, dan linkungan
lain dengan kisaran yang tidak terlalu besar sehingga pemakaian buffer dan pemilihan
faktor lingkungan yang tepat penting diperhatikan.
Wiliam (1997), Karbohidrat (monosakarisa) yang penyusun
utamanya adalah glukosa,lalu dioksidasi menjadi CO2 dan H2O, kemudian diubah
menjadi monosakarida, disakarida, poligosakarida, ketiganya disebut Heksosa.
Sri (1990), Karbohidrat terhidrolisis oleh enzim dan oleh
karenanya pencernan karbohidrat diabsorvasi sebaagai monosakarida, didalam
hati, fruktosa dan glukosa diubah menjadi glukosa.
Nelson (2009), produk utama karbohidrat adalah karbondioksida,
hidrogen, metan, asam lemak rantai pendek yang mudah menguap.
Reinhard (1999), menyatakan bahwa apabila HCI (asam klorida)
pekat direasikan dengan gula dan ditambahkan sedikit resorsional maka
menghasilkan 4-hidroksi metil furfuran berwama merah).
Michael (1991), menyatakan bahwa ketosa dapat dihidrasi
lebih cepat daripada aldosa sehingga diperoleh turunan furfural yang
selanjutnya berkondensasi dengan resorsinol membentuk kompelks merah.
Nuryani (1998), yang menyatakan bahwa apabila beberapa
monosakarida seperti glukosa fruktosa dan manosa diragikan maka akan terbentuk
etil alcohol dan CO2.
Roogers (1991), meyatakan bahwa apabila asam sulfat (K2SO4)
pekat akan menghidrolisis ikatan glikosida (dari polisakarida) maka akan
dihasilkan monosakarida yang serlanjutnya terjadi dehidrasi menjadi furfural
dan turunanya.
Manion (1999), yang menyatakan bahwa cincin tersebut disebut
cincin ungu senyawa kompleks.
Montgomery (1996), menyatakan bahwa ekstrak ragi (bebas sel)
mempunyai kemampuan untuk mengubah glukosa menjadi etanol.
Sumardjo
Darwin (2006), menyatakan bahwa rasa
manis pada glukosa (monosakarida ) dan beberapa disakarida lainnya disebabkan
karena adanya gugus hidroksi dan molekul-molekul besar yang terdapat didalamnya
dapat di rasakan oleh indra pengecap .
Poedji Anna (2006), menyatakan bahwa
monosakrida adalah monomer gula yang terdiri dari satu molekul dan letaknya
bedasarkan gugus karbonilnya.
III. MATERI DAN METODA
3.1 Waktu dan
Tempat
Praklikum Biokimia
Dasar ini mengenai protein
dan asam amino, karbohidrat, lipida, dan
enzim dilaksanakan mulai tanggal 16 maret sampai dengan 6 April 2015 pukul 13.30 WIB
s/d selesai, yang bertempat di Laboratorium Fakultas Peternakan, Universitas
Jambi.
3.2 Materi
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah HCl
0.1 N, NaOH 0.1 N, Etanol, kloroform, asam-asam amino (glisin, lisin,
glutamate, alanine, tirosin, arginine, triptofan ), larutan Ninhidrin, larutan
monosakarida (glukosa, fruktosa), ragi (yeast), aquades, larutan Iod, pati ubi
kayu (amilum), sari nanas, Sun Kara (santan kemasan), asam-asam lemak (butirat,
stearat, asam oleat), lemak dan minyak (margarin, lard, butter, olive , keju),
fosfolipida (lesitin telur), minyak paraffin, minyak kelapa, soda , HCl encer,
enzim papain (getah papaya muda).
Adapun alat yang digunakan pada praktikum tersebut adalah
tabung reaksi dan raknya, beker glass, batang pengaduk, pipet tetes, gelas ukur,
erlenmeyer, penjepit tabung reaksi, penangas air, spritus (pembakar), tabung
fermentasi (peragian), kertas saring, pipet pengencer, neraca analitik
dan tissue .
3.3 Metoda
3.1.1
Karbohidrat
Pada
pencobaan pertama larutan
monosakarida(glukosa) di masukan kedalam sabuah tabung reaksi. Kemudian
tambahkan sedikit ragi, kocoklah sehingga terjadi suspensi, setelah itu suspense tersebut dimasukan kedalam sebuah
tabung peragian. Biarkan sejenak pada suhu 30˚ C (suhu kamar) sehingga
terbentuk CO2.
Tambahkan NaOH kedalam suspensi (sehingga CO2 yang terbentuk hilang)
tersebut.Lakukanlah prosedur kerja 1
sampai dengan 4 juga dilakukan tanpa menggunakan ragi (sebagai blangko).
Pada percobaan kedua masukanlah larutan yang akan diuji
(pati) kedalam tabung reaksi. Tambahkan HCL encer, selanjutnya tambahkan
lagi 2 tetes lod. Sebagai blangko
lakukanlah prosedur 1 dan 2 tanpa menggunakan larutan yang diuji (diganti
dengan aquades). Lalu bandingkan warna yang terjadi antara yang menggunakan
larutan uji (pati) dengan menggunakan blangko (aquades). Bandingkanlah setiap perubahan warna yang terjadi
3.1.2
Lipida
Pada praktikum daya kelarutan lemak
prosedur kerjanya adalah pertama-tama
siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Setelah itu siapkan 3 tabung reaksi
dan isilah pada masing-masing tabung secara berturut-turut margarin, keju dan
minyak zaitun. Kemudian tambahkan masing masing 1 ml air. Aduklah hingga
homogen dan tuanglah pada kertas saring yang telah disediakan masing-masing 1 ml larutan. Amatilah setiap
penyebaran dan transparansinya.
Dengan tabung yang berbeda isilah
pada masing-masing tabung secara berturut-turut margarin, keju dan minyak
zaitun. Kemudian tambahkan lagi 1 ml etanol kedalam tabung tersebut. Aduklah
hingga homongen, lalu tambahkan lagi air 1 ml pada masing-masing larutan.
Aduk hingga homogen. Amati setiap
perubahan yang terjadi dan catat hasilnya.
Pada praktikum emulsi lemak prosedur kerjanya adalah pertama-tama siapkan
2 tabung reaksi yang masing-masing berisi air 3 ml. Setelah itu ditetesi minyak
zaitun sebanyak 2 tetes kedalam masing-masing tabung. Perhatikan perubahannya.
Sesudah itu tambahkan lesitin pada tabung petama dan minyak zaitun pada tabung
kedua. Aduk hingga homongen dan perhatikan setiap perubahannya
Pada percobaan terakhir taruhlah 4
tabung reaksi dengan masing-masing berisi air 5 ml. Dua tabung pertama
tambahkan minyak zaitun dan 2 tabung terakhir tambahkan minyak kelapa. Pada
tabung yang berisi minyak zaitun, tabung I tambahkan HCl encer dan tabung II
tambahkan soda. Hal yang sama juga dilakukan pada tabung yang berisi minyak
kelapa, , tabung I tambahkan HCl encer dan tabung II tambahkan soda. Amatilah
zat mana yang berfungsi sebagai emulgator.
3.1.3
Enzim
Cara kerja pada praktikum ini,
terlebih dahulu bersihkan daging papaya yang masih utuh dengan air. Begitu juga
dengan pisau yang akan digunakan mengoreskan daging papaya tersebut. Goreslah
buah papaya tesebut dibeberapa bagian hingga getahnya keluar dan biarkan
menetes ke dalam tabung reaksi .
Setelah getahnya berhenti mengalir,
amatilah tekstur, warna dan bau dari getah tersebut. Tuangkanlah krim santan kelapa kedalam beaker glass.
Amatilah tekstur, wana dan bau . Kemudian campurkanlah getah papaya dengan krim
santan kelapa , aduk hingga homogen. Amati warna, rasa dan baunya. Catatlah
hasil yang didapat dari semua panelis .
3.1.4
Protein
Praktikum daya kelaru`tan protein adalah pertama-tama
siapkan 5 buah tabung reaksi yang di isi dengan pelarut : HCL, NaOH, etanol,
klorofrom dan air (masing- masing 3 ml). Larutkanlah 0,5 gram asam amino ke dalam masing-masing
pelarut tersebut gunakan pengaduk bila perlu catat bagaimana hasilnya.
Pada Uji Ninhidrin, pertama-tama masukan 2 ml asam amino
yang akan diidentifikasi ke dalam tabng reaksi dengan pH netral. Tambahkan
pereaksi Ninhidrin. Didihkan selama 2 menit dalam penangas air. Amati wama
hasil reaksi tersebut dan simpulankan hasil pengamatan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karbohidrat
Karbohidrat terdiri dari Monosakarida, yang merupakan
senyawa orgarnik yang sangat banyak terdapat dibumi ini. Karbohidrat dapat
dibagi menjadi Monosakarida, Oligosakarisa dan Polisakarida. Karbohirat
merupakan senyawa organik yang paling berlimpah di bumi ini, yang tersusun
terutama oleh monosakarida. Sebagian besar zat-zat alam merupakan golongan
karbohirat fungsinya sebagai bahan baku (bahan sumber energi) baik untuk
mikroorganime, tumbuhan maupun hewan.
4.1.1
Peragian
Peragian adalah suatu kegiata dimana glukosa di fermentasikan dengan ragi dan akan
menghasilkan zat baru yang dapat di manfaatkan. Prinsip dalam kegiatan ini
adalah beberapa monsakarida seperti glukosa, fruktosa, dan manosa disebut juga
“Zimoheksosa” , yang apabila di fermentasikan akan membentuk etilalkohol dan CO2.
Tabel hasil
fermentasi
Bahan
|
Waktu
|
Warna
|
NaOH
|
Ket
|
Menggunakan
Ragi
|
5 menit
|
Putih
Keruh
|
Tidak
Bergelembung
|
Terjadi suspensi tetapi tidak terlalu
tampak
|
Tidak
Menggunakan
Ragi
|
5 menit
|
bening
|
Tidak
Bergelembung
|
Terjadi suspensi, terlihat jelas
|
Setelah dilakukan percobaan maka
diperoleh hasil yaitu saat glukosa (warna
jernih) ditambahkan ragi (putih keruh), NaOH warnanya putih pekat. Saat
fruktosa ditambah ragi dan ditambah lagi dengan NaOH warna putih, jadi sedikit
memudar lama – lama ada CO2,dan
bagian atasnya putih. Glisin yang cuma di tambahkan NaOH warnanya berubah menjadi putih kuning dan fruktosa yang
juga hanya di berikan NaOH warnanya berubah menjadi kuning bening. Tidak
terbentuknya Co2, karena suhu atas 30 C, ragi mengendap warna larutan di bawah
keruh.Sedangkan diatas bening.Hal ini tidak sesuai dengan prinsip karena adanya
pengaruh suhu. Glukosa
adalah bagian dari karbohidrat yang digolongkan dalam monosakarida.
Beberapa monosakarida seperti glukosa, fruktosa dan manosa yang juga disebut
”Zhimoheksosa’’.
Gambar
1.1 glukosa
Hal ini disesuaikan dengan pendapat
Rahman (2002) yang menyatakan bahwa fermentasi mediun cair lebih memungkinkan
untuk mengendalikan faktor – factor fisik dan kimia yang mempengaruhi proses
fermentasi seperti suhu, pH dan kebutuhan oksigen dan didukung pendapat dari Nuryani (1998), yang menyatakan
bahwa apabila beberapa monosakarida seperti glukosa fruktosa dan manosa
diragikan maka akan terbentuk etil alcohol dan CO2.
Gambar 1.2 Fermentasi glukosa
4.1.2
Uji Iod
BAHAN
|
WAKTU
|
WARNA
|
KETERANGAN
|
Aquades
|
0
menit
5
meniit
7.8
menit
10
menit
|
Jingga
Jingga
Kuning
Bening
|
Terjadi
perubahan warna
|
Ubi
(amilim)
|
0
menit
2
menit
5
menit
8
menit
10
menit
|
Putih
Hitam
Uungu
Aabu-abu
Putih
|
Terjadi
perubahan warna
|
Sun
Kara
|
0
menit
5
menit
10
menit
|
Putih
Putih
Cream
|
Terjadi
perubahan warna
|
Sari
nanas
|
0
menit
5
menit
10
menit
|
Kuning
Jingga
Kuning
|
Terjadi
perubahan warna
|
Reaksi iodium merupakan hasil
pembentukan rantai poliiodida dari reasksi pati dan iodium. Pada amilosa dan
atau bagian rantai lurus dari pati, bentuk heliks terdapat pada iodium yang
menyebabkan warnanya menjadi ungu kemerahan atau ungu pekat. Amilopektin atau
bagian yang bercabang dari pati menyebabkan warna menjadi kuning atau orange.
Seperti terlihat bahwa pati yang dipecah atau dihidrolisis menjadi unit
monosakrida yang lebih kecil,dan warna ungu tidak diproduksi. Oleh sebab itu
uji iod dapat menentukan penyelesaian hidrolisi ketika perubahan warna tidak terjadi (Sumardjo, 2006).
Iodium berfungsi sebagai pendeteksi
adanya kandungan amilum pada sampel direaksikan dengan iod dan HCl menghasilkan
warna ungu. Hal ini menunjukkan bahwa pati ubi mengandung amilum (karbohidrat). Hal ini sesuai dengan pendapat
Sunita ( 2006), yang menyatakan bahwa apabila amilum direaksikan dengan iod
maka akan membentuk kompleks absorbs warna ungu sedangkan glikogen membentuk
warna merah.
Gambar
1.3 Santan, sari nanas, dan ubi kayu
Sari nanas yang direaksikan dengan
iod menghasilkan warana hijau lumut. Hal ini menunjukkan bahwa sari nanas
mengandung vitamin. Santan yang direaksikan dengan iod akan menghasilkan warna
putih kekuningan. Hal ini menunjukkan bahwa santan mengandung lemak.
Gambar
1.4 uji Iod
4.2
Lipida
Lipida merupakan komponen sel atau jaringan yang terdiri
atas beraneka ragam senyawa yang sebagian besar hanya larut dalam pelarut
organik. Lipida tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organiknya,
berupa: eter, kloroform, benzen, alcohol, bensin, dan tetra yang karena
sebagian besar tergolong gugus lipofil. Secara sederhana lipida terdiri dari
asil gliserol, fosfolipida, sfingolipida, glikolipida, lipida terpen, termasuk
korotenoid, dan steroid. Dalam lipida ini terdapat dua komponen utama yaitu
lemak (olive), dan minyak (oil). Lemak lebih banyak ditemukan pada hewan, dan
minyak lebih banyak diperoleh dari tumbuh- tumbuhan.
Di alam terdapat sebagai lemak yang netral dan disamping
zat-zat yang menyerupai lemak (lipoid). Lipida terutama disusun atas rantai
hidrokarbon panjang beiantai lurus, bercabang atau membuat stnrktur siklis. Lipida
kompleks mengandung komponen non lipida seperti fosfat pada lipida protein pada
proteolipida atau pada glukolipida. Trigleserida atau hiasil gliserol merupakan
molekul tidak bermuatan dan dikenal juga sebagai lipida nehal, lemak atau
minyak sederhana. Trigleserida merupakan bagian lipida yang dikonsumsi.
Trigleserida terurai menjadi komponen penyusun oleh lipase. Fosfolipida
merupakan turunan tiasil gliserol yang salah satu komponen asam lemaknya oleh
senyawa fosfat. Fosfolipida yang sering dijumpai dialam adalah lesitin,
sefalin" fosfogliserida serin, fosfogleserida inositol.
Trigliserida
disebut juga lipid Netral, yang merupakan molekul yang tidak bermutan.
Sedangkan Enzim protein yang disentesis oleh sel hidup untuk mengktalisis
reaksi yang berlangsung didalamnya. Lipid tidak memiliki
rumus molekul yang sama, akan tetapi terdiri dari beberapa golongan yang
berbeda. Berdasarkan kemiripan struktur kimia yang dimiliki, lipid dibagi
menjadi beberapa golongan, yaitu Asam lemak, Lemak dan fosfolipid ( Salirawati
et al,2007).
4.2.1 Daya
Kelarutan Lipida
Pada Daya Kelarutan Lipid yang bertujuan untuk melihat daya
kelarutan lipida dan asam-asam lemak dalam pelarut nnaka didapatkan hasilnya
sebagai berikut:
Tabel 2.1 Kelarutan
lipida pada air
No
|
Bahan
|
Keterangan
|
Hasil
pada kertas
|
1
|
Margarin
+
Air
|
Menghasilkan
warna kuning, tidak menyatu dimana margarin lebih banyak berada diatas
permukaan air.
|
Warna
kuning dari margarin terpisah dengan air. Penyebaran lebih luas dibanding
dengan penyebaran keju. Transparansinya tidak terlalu tampak karena tertutupi
oleh warna kuning.
|
2
|
Keju
+
Air
|
Berwarna
putih susu, tidak menyatu, terjadi pengendapan di bagia bawah larutan.
|
Warna
putih susu dihasilkan pada pencampuran keju ditambah air. Penyebaran kecil,
dan tranparansi tidak tampak
|
3
|
Minyak
Zaitun
+
Air
|
Berwarna
bening , tidak larut , minyak zaitun berada diatas permukaan air.
|
Penyebaran
cepat dan transparansi lebih terlihat jelas
|
Gambar
2.1 Margarin dan keju
Gamabr
2.2 Minyak zaitun
Gambar 2.3 Tranparansi dan penyebaran pada kertas saring
Lipida merupakan komponen sel atau jaringan yang terdiri
atas beraneka ragam senyawa yang sebagian besar hanya larut dalam pelarut
organik. Lipida tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organiknya,
berupa: eter, kloroform, benzen, alcohol, bensin, dan tetra yang karena
sebagian besar tergolong gugus lipofil. Secara sederhana lipida terdiri dari
asil gliserol, fosfolipida, sfingolipida, glikolipida, lipida terpen, termasuk
korotenoid, dan steroid. Dalam lipida ini terdapat dua komponen utama yaitu
lemak (olive), dan minyak (oil). Lemak lebih banyak ditemukan pada hewan, dan
minyak lebih banyak diperoleh dari tumbuh- tumbuhan. Hal ini terlihat dari
tabel bahwa tak satu pun yang dapat larut dalam air .Hal ini sesuai dengan
pendapat Jhoq Kimball (2001), menyatakan bahwa lipid adalah zat organik yang
sangat hidrofobik yang berarti bahwa zat-zat tersebut sukar/sam sekali tidak
larut dalam air.
2.2 Kelarutan lipida
pada perlarut organic
No.
|
Bahan
|
Keterangan
|
1
|
Margarin
+
Etanol
+
Air
|
Warnanya kuning cerah
. Menyatu dengan sempurna, tetapi
setelah di tambahkan air terdapat gumpalan-gumpalan minyak di atas permukaan
larutan.
|
2
|
Keju
+
Etanol
+
Air
|
Warnanya putih
seperti susu . Menyatu dengan
sempurna, tetapi setelah di tambahkan air terdapat gumpalan-gumpalan keju di
atas permukaan larutan.
|
3
|
Minyak
Zaitun
+
Etanol
+
Air
|
Warnanya bening,
menyatu dengan sempurna, tetapi setelah di tambahkan air terdapat
gumpalan-gumpalan minyak di atas permukaan larutan.
|
Lipid atau masyarakat sering
menganggapnya sebagai lemak adalah senyawa organik yang tidak dapat larut dalam
air, tetapi larut dalam pelarut organik (nonpolar), seperti: kloroform, eter,
dan minyak tanah. Molekul lemak tersusun dari unsur-unsur C, H, O, dan
terkadang terdapat unsur P dan N. Lemak umumnya disusun oleh trigliserida
(lemak netral) yang terdiri atas gliserol dan tiga asam lemak. Berdasarkan
tingkat kejenuhannya, asam lemak dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu asam
lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak jenuh adalah asam lemak yang
tidak mengandung ikatan rangkap. Misalnya asam palmitat dan asam stearat yang
terdapat pada lemak hewani. Sedangkan asam lemak tak jenuh adalah asam lemak
tak jenuh adalah asam lemak yang mengandung ikatan rangkap. Misalnya, asam
oleat dan asam linoleat yang terdapat pada lemak nabati (Priadi 2009).
Gambar
2.4 percobaaan pada pelarut organik
Terlihat
jelas pada lipid yag dicampurkan dengan peralut organic akan melarut , dan
apabila ditambahkan air akan tampak seperti gumpalan-gumpalan minyak di atas
permukaan larutan. Hal ini sesuai dengan pendapat Brians (2001), menyatakan bahwa lipida menggunakan komponen sel atau
jaringan terdiri atas beraneka ragam senyawa sebagian besar hanya larut dalam
pelarut organik seperti eter, etanol, kloroform, dan benzen.
2.3
Emulsi dari Lemak
Jika air dan lemak dikocokkan akan
terjadi emulsi yang tidak stabil. Sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama
akan kembali ke keadaan semula. Penambahan suatu zat ketiga mempunyai daya
aktif pemukaan .
Tabel
2.3Lemulsi lemak
NO
|
BAHAN
|
WARNA
|
GLBNG
|
MINYAK
|
AIR
|
1
|
5ml
air 1
+
1
tetes minyak Zaitun
+
1
tetes HCl
|
Bening
|
Tidak
ada
|
Diatas
|
Dibawah
|
2
|
5ml
air 1
+
1
tetes minyak Zaitun
+
1
tetes soda
|
Bening
|
Tidak
ada
|
Diatas
|
Dibawah
|
3
|
5ml
air 1
+
1
tetes minyak kelapa
+
1
tetes HCl
|
Kurang
bening
|
Bergelembung
di bagian dinding tabung
|
Diatas
|
Dibawah
|
4
|
5ml
air 1
+
1
tetes minyak kelapa
+
1
tetes soda
|
Kurang
bening
|
Bergelembung
di bagian dinding tabung
|
Diatas
|
Dibawah
|
Dari pengamatan yang telah
dilakukan, mendapatkan hasil diantaranya air dan lemak jika dikocok akan
terjadi emulsi dan ternyata tidak stabil. Sehingga akan kembali kepada keadaan
semula (campuran) setelah didiamkan sejenak. Berdasarkan data yang diperoleh
maka dapat diketahui bahwa Beberapa
lipida larut dalam pelarut organk dan sebagian lagi ada yang tidak larut. Pengujian
pertama pada minyak diuji dengan air
yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Hasilnya minyak dan air tadi tidak bisa
menyatu, sehingga dapat disimpulkan bahwa minyak bersifat nonpolar atau tidak
menyatu dengan larutan polar atau air, begitu juga dengan margarin termasuk
bersifat non polar. Namun setelah ditambahkan soda dan HCl larutan menjadi menyatu , hal ini menunjukkan
bahwa soda dan HCl ada zat yang bersifat sebagai emulgator.
Gambar
2.5 Percobaan emulsi lemak menggunakan soda dan HCl
Air sebanyak 3 ml ditambah dengan
minyak zaitun kemudian ditambah lesitin ,hasil awalnya terjadi pemisahan antara
air dan minyak zaitun. Setelah dikocok bersamaan dengan lesitin maka terbentuk
butiran-butiran kecil pada dinding tabung dan larutan menjadi lebih kental dari
semula. Ini berarti lesitin berfungsi sebagai emulgator.
Gambar
2.6 Emulgator lesitin
4.3 Enzim
Enzim dapat di produksi dengan cara
mengekstraksi jaringan tanaman atau hewan dan mikroorganisme. Cara ini memiliki
beberapa kelemahan, sehinggga yang sering dan umum dilakukan adalah cara
membiakkan mikroba penghasil enzim yang dikehendaki pada media tertentu
kemudian diektraksi. Keuntungan memproduksi enzim dari mikroba antara lain
biaya produksi lebih rendah, dapat di produksi dalam waktu singkat serta mudah
dikontrol. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Stone (2003), menyatakan bahwa
keuntungan memproduksi enzim dari mikroba antara lain biaya produksi lebih
rendah dapat diproduksi dalam waktu singkat serta mudah dikontrol. Kecepatan
produksi enzim dapat lebih ditingkatkan dengan mengunakan strain mikroba,
induksi mutan dan perbaikan kondisi kultur pertumbuhannya.
Tabel
hasil uji organoleptik
A. Getah Pepaya
Panelis
|
Warna
|
Bau
|
Rasa
|
|||
Suka
|
Tdk suka
|
Suka
|
Tdk suka
|
Suka
|
Tdk suka
|
|
Kreslita Simbolon
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
L ia Novrida
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
Rico Syaeffudin
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
Dicky Suprayogi
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
Tabel
organoleptik pada santan
Panelis
|
Warna
|
Bau
|
Rasa
|
|||
Suka
|
Tdk suka
|
suka
|
Tdk suka
|
Suka
|
Tdk suka
|
|
Kreslita Simbolon
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
L ia Novrida
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
Rico Syaeffudin
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
Dicky Suprayogi
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
Tabel
organoleptik pada krim santan dicampur dengan getah papaya
Panelis
|
Warna
|
Bau
|
Rasa
|
|||
Suka
|
Tdk suka
|
suka
|
Tdk suka
|
Suka
|
Tdk suka
|
|
Kreslita Simbolon
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
L ia Novrida
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
Rico Syaeffudin
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
Dicky Suprayogi
|
ü
|
ü
|
ü
|
|||
Dalam
praktikum ini jenis tanaman yang digunakan dalam uji enzim ialah buah papaya. Karena
papaya mengandung enzim papain yang kemudian di campurkan dengan krim santan
kelapa sehingga menghasilkan minyak. Enzim ini diproduksi dengan cara
mengekstraksi dari jaringan tanaman atau hewan dan mikroorganisme. Jhonson
(2002), menyatakan bahwa enzim yang berperan dalam ekstraksi minyak kelapa
adalah enzim yang menghidrolisis makro molekul karbohidrat dan protein
(proteolitik).
Gambar 3.1 Getah papaya
Gambar 3.2 Santan
Wandi
(2003), menyatakan bahwa hal yang perlu diperhatikan karena enzim merupakan
protein biokatalisator yaitu daya tahan pada pH, suhu, dan lingkungan lain
dengan kisaran yang tidak terlalu besar sehingga pemakaian buffer dan pemilihan
faktor lingkungan yang tepat penting diperhatikan.
Getah papaya yang di campurkan dengan krim
santan kelapa menghasil minyak .baunya menyengat dan kurang sedap. Hasil ini
menunjukkan bahwa getah papaya mampu menghidoris makro molekul protein
dari krim santan santan kelapa. Kondisi
ini sesuai dengan pendapat Wibowo (2001), yang menyatakan bahwa pada penambahan
getah buah pepaya muda dengan krim santan kelapa jika dicampur antara yang
dengan yang lain maka dari warna rasa dan baunya akan jauh berubah dari
awalnya.
4.4 Protein
Protein merupakan makromolekul terbanyak yang dapat ditemui
dalam sel hidup, yang merupakan komponen penting dan utama untuk sel hewan dan
sel manusia. Protein dapat diisolasi dari seluruh sel ke bagian sel. Dalam hal
ini, protein mempunyai peranan penting dalam biologi yang sangat penting,
sebagai zat pembenfuk, transport, katalisataor reaksi kimia, hormon, racun, dan
yang lainnya. Protein ini mempunyai empat fungsi utamanya yaitu untuk
memperbaiki jaringan yang rusak untuk pertumbuhan jaringan baru, sebagai enzim,
dan sebagai hormon. Sifat fisik dan kimia protein tersebut sangat beragam
diantaranya: ukuran, berat molekul, kelarutan, konformasi tiga dimensi, susunan
dan deret asam amino penyusunnya yang sangat mempengaruh semua faktor tersebut.
4.4.1 Uji Ninhidrin
Semua asam amino yang ditemukan pada protein mempunyai ciri
yang sama, gugus karboksil dan amino diikat pada atom karbon yang sama.
Masing-masing berbeda satu dengan yang lain pada gugus R-nya, yang bervariasi
dalam struktur, ukuran, muatan listrik, dan kelarutan dalam air. Beberapa asam
amino mempunyai reaksi yang spesifik yang melibatkan gugus R-nya.
Melalui reaksi hidrolisis protein telah didapatkan 20 macam
asam amino yang dibagi berdasarkan gugus R-nya, berikut dijabarkan penggolongan
tersebut : asam amino non-polar dengan gugus R yang hidrofobik, antara lain
Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin, Prolin, Fenilalanin, Triptofan dan Metionin.
Golongan kedua yaitu asam amino polar tanpa muatan pada gugus R yang
beranggotakan Lisin, Serin, Treonin, Sistein, Tirosin, Asparagin dan Glutamin.
Golongan ketiga yaitu asam amino yang bermuatan positif pada gugus R dan
golongan keempat yaitu asam amino yang bermuatan negatif pada gugus R. Dari
ke-20 asam amino yang ada, dijumpai delapan macam asam amino esensial yaitu
valin, leusin, Isoleusin, metionin, Fenilalanin, Triptofan, Treonin, dan Lisin.
Asam amino essensial ini tidak bisa disintesis sendiri oleh tubuh manusia
sehingga harus didapatkan dari luar seperti makanan dan zat nutrisi lainnya.
Dari praktikum yang telah dilaksanakan,
kami mendapat hasil sebagai berikut :
Asam
amino
|
Ninhidrin
|
Warna
awal
|
Warna
akhir
|
Glisin
( 2 ml)
|
5
tetes
|
Bening
kekuningan
|
Ungu
pekat
|
Tirosin
( 2 ml )
|
5
tetes
|
Bening
kekuningan
|
Ungu
cerah
|
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan tentang uji
ninhidrin dapat dibuktikan bahwa ninhidrin senyawa oksidator kuat bereaksi
dengan tri9ptofan dan tyrosin karena ph dari protein tersebut mencapai 4-8.
Sedangkan pada glisin, arginin, dan histidin perubahan warna yang terjadi
menunjukan bahwa asam-asam amino ini bereaksi dengan ninhidrin, hal ini sesuai
dengan pendapat Santoso (2008) yang menyatakan bahwa ninhidrin bereaksi
dengan asam amino bebas dan protein menghasilkan warna biru. Reaksi yang paling
umum digunakan untuk analisis kualitatif protein dan produk hasil
hidroplisisnya. Reaksi ninhidrin dapat pula dilakukan terhadap urin untuk
mengetahui adanya asam amino atau mengetahui adanya pelepasn protein oleh
cairan tubuh.
Gambar
4.1 Uji Ninhidrin
Menurut Novita (2009) uji
ninhidrin adalah uji umum untuk protein dan asam amino. Ninhidrin dapat
mengubah asam amino menjadi suatu aldehida. Ninhidrin dilakukan dengan
menambahkan beberapa tetes larutan ninhidrin yang terlihat tidak warna kedalam
sampel, kemudian dipanaskan beberapa menit. Adanya protein ditandai dengan
adanya perubahan warna ungu. Sedangkan menurut Riawan (1990) protein
memiliki molekul besar dengan berat molekul yang bervariasi antara 5000 hingga
jutaan dengan hidrolisis oleh asam atau oleh enzim protein akan menghasilkan
asam amino, ada 20 jenis asam amino yang terdapat dalam molekul protein.
4.4.1 Kelarutan Protein
Kelarutan
tirosin
Pelarut
|
Kelarutan
|
Warna
|
HCl
|
Larut
|
Bening
|
NaOH
|
Tidak larut
|
bening
|
Kloroform
|
Larut ( sedikit )
|
Bening ( gumpalan putih )
|
Aquades
|
Tidak larut
|
Putih (Ada endapan )
|
Etanol
|
Larut
|
Bening
|
Tabel Kelarutan Glisin
Pelarut
|
Kelarutan
|
Warna
|
HCl
|
Larut
|
Bening
|
NaOH
|
Tidak larut
|
Bening
|
Kloroform
|
Larut
|
Bening
|
Aquades
|
Tidak larut
|
Terdapat endapan
|
Etanol
|
Larut
|
Bening
|
Setelah kegiatan praktikum di lakukan, maka di
dapatkan hasil setelah di masukkan ke dalam reaksi ciran NaOH di campur dengan larutan asam amino tirosin,
bahwa hasilnya cairan atau larutan berwarna putih kekeruhan dan tidak semuanya
larutan larut dalam larutan tersebut, sedangkan pada glisin larut. Hal ini sesuai
dengan pendapat (Rahani,2002), Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi
dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam,
dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein
tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Didukung pendapat Poedjiadi (2004), yang menyatakan
bahwa kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta
dielektrik pelarutnya.Protein seperti asam amino bebas memiliki titik
isoelektrik yang berbeda-beda.
Gambar
4.2 Uji Ninhidrin
Penyusun protein adalah asam amino,
yaitu asam organic yang mengandung gugus amino (-NH2) di samping gugus
karboksitlat (-COOH),. Asam amino yang di kenal banyak sekali tetapi hanya 20
jenis yang termasuk penyusun protein alami. Hal ini sesuai dengan pendapat
Anwar M (2001), bahwa asam amino merupakan satuan penyusun protein, berdasarkan
rumus bangunnya asam amino dapat dipandang sebagai turunan asam karboksilat,
yang satu atom hidrogennya digantikan oleh gugus amino.
Setelah melakukan percobaan pada uji
kelarutan asam amino maka didapat hasilnya yaitu setelah etanol, HCl, NaOH, dan
aquades dicampurkan dengan asam amino yaitu glisin ,maka senyawa pada
pencampuran zat tersebut tetap seperti semula tidak ada perubahan warna tetapi
pada saat asam amino diteteskan kedalam tabung yang berisi HCl, NaOH, etanol,
dan aquades terjadi suatu pelarutan sehingga pencampuran kedua tersebut tampak berminyak.
Itu terjadi karena adanya proses pelarutan antara larutan asam amino glisin
dengan HCl, NaOH, aquades, dan etanol. Namun pada tabung hasil pencampuran air
dengan glisin, permukaan larutan tersebut bahwa asam amino yang dalam larutan
air akan mengion dan dapat bersifat asam dan basa berwarna biru kehijauan. Jaru
Anwar (2001), menyatakan bahwa asam amino adalah senyawa anorganik yang
mengandung gugus karboksil dengan demikian mempunyai sifat asam-basa.
Gambar
4.2 Daya kelarutan protein
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum Protein
dan asam amino ialah Protein tersusun atas polimer asam amino yang bersifat
khas, bukan hanya bagi gugus amino dan gugus karboksil bebas, tetapi juga bagi
gugus R yang terkandung di dalamnya. Setelah melaksanakan praktikum mengenai
kelarutan asam amino, dapat disimpulkan bahwa daya larut beberapa asam amino
tertentu dapat larut pada pelarut tertentu, misalnya : glisin dan histidin
dapat larut dalam larutan HCl, NaOH dan Aquades, sedangkan tirosin hanya larut
dalam larutan etanol.
Berdasarkan hasil percobaan yang
telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Karbohidrat dapat diidentifikasi
oleh pereaksi molisch. Fermentasi mediun cair lebih memungkinkan untuk
mengendalikan faktor – factor fisik dan kimia yang mempengaruhi proses
fermentasi seperti suhu, pH dan kebutuhan oksigen.
Kesimpulan dari praktikum Lipida
adalah dapat diketahui bahwa lemak (lipid) memiliki sifat larut dalam pelarut
nonpolar yaitu seperti etanol. Sedangkan lipid tidak dapat terlarut dalam air,
karena air bersifat polar. Dari setiap bahan yang digunakan menghasilkan reaksi
yang berbeda. Ada yang terbentuk emulsi dan ada yang tidak.
Kesimpulan dari praktikum Enzim
adalah Enzim merupakan protein yang disentesis oleh sel hidup untuk
mengkatalisasi reaksi yang berlangsung didalamnya. Oleh karena reaksi yang
enzimatis sangat bervariasi, maka biokatalisator yang dibentuk, jumlah maupun
jenisnya tak terhitung banyaknya. Enzim merupakan biokatalisator dengan
spesifikasi dan efisiensi tinggi. Enzim dapat diproduksi dengan cara
mengektraksi dari jaringan tanaman atau hewan dan mikroorganisme. Hasil uji
Organoleptik menghasilkan tanggapan indera yang berbeda-beda.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan praktikum,
praktikan harus bisa memanfaatkan waktu yang telah ditentukan, agar data yang
diperoleh lebih akurat. Dan semoga pada praktikum yang akan datang menjadi
lebih baik dan kita semua bias menjalankan praktikum ini dengan lebih paham
lagi, serta menjaga kebersihan lab.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonymous, 2009. Protein (http://www.hobiikan.blogspot.com/2008/08/jenis-jenis- protein.html.(5 April 2015).
Anief M, 2002. Ilmu meracik Obat
Teori dan Praktek .Gajah Mada University Press. Yogjakarta.
Ansell.2001. Langkah Pertama Dalam Kimia. Erlangga. Jakarta.
Anwar Muhammad. 1998. Tehnik Laboratorium Untuk Bidang
Biologi dan Konsep Kimia.Departemen
Pendidikan. Bandung.
Atmakusuma, 2001.http/ fraenstain.blogspot.com.2011.laporan- laporan.kimia- biokimia/karbohidrat (20 Maret 2015 )
B. C. Hapman, (2005). Penuntun Pelajaran Untuk SLTA. Ganesha
Exact. Bandung
Brians.2001. Peruntun Pelajaran Kimia untuk SLTA. Genesa
Exact. Bandung.
Day, 1998. Kimia Lanjutan.Ganesha Exact. Bandung.
Eric, E Corn dan Paul. 2000. Kimia untuk SMA. Erlangga.
Jakarta.
Ekanarmi.2000.http://peyexxblog.blogspot.com/2011/12/identifikasi-asam-amino- melalui-uji.html/12
April 2013.
(6 April 2015).
Franley.2005. Pengantar Praktikum Kimia organik. Depdikbud
dirjen Pendidikan Tinggi. Yogyakarta.
Herikson.2003. Pengantar Praktikum Kimia organik. Depdikbud
dirjen Pendidikan Tinggi.
Yogyakarta.
Jhoson, 2002. Penuntun Kimia Untuk SMA jilid II. Tiga
Serangkai; Bandung.
Kallie,
200. Prinsip-prinsip Sains untuk Keperawatan. Retno Indah Penerjemah.Jakarta; Erlangga.(Principles of Sains for Nurses hal
66).
Kimball,
jhoq(2001)Pengantar Praktikum Kimia organik. Depdikbud dirjen Pendidikan Tinggi. Yogyakarta.
Lehninger,
A.2001.Dasar-dasar Biokimia.Terjemahan Maggy Thenawidjaya. Erlangga, Jakarta
Lehninger,
Albert.L.2000. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid I. Jakarta.
Nelson,
2006. Karbohidrat dan Fungsinya bagi Mahluk Hidup.Esis. Surabya .
Nursholeh.
Laporan kuliah. Nursholehfapetunja.blogspot.com. (02 April 2013).
Poedjiyati,
Anna dkk., 2006. Dasar Dasar Biokimia.Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Sadikin,
2001. Manejemen Pakan [terhubung berkala]. Nutrisi- awardspace-com- download/ MANEJEMEN20%PAKAN20%.pdf (25 Maret
2015)
Salirawati et
al.2007.belajar kimia menarik. Jakarta: Grasindo.
Setiawan
Dedi, 2004. Karbohidrat Sebagai Sumber Energi. Erlangga.
Sirajauddin,
2011. Konsep dasar Biokimia .PMIPA-ITB. Bandung.
Suci,
Hamdan dkk., 2006. Pengantar Ilmu kimia. Buku Panduan Kuliah Mahasiswa. Kedokteran Egc.
Sumarjo
Darwin, 2006. Petunjuk Praktikum Biokimia Laboratorium Dasar. Universitas Trunojoyo.
Sunita
Almatsier, 2006. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Tim
penyusun. 2006, Penuntun Praktikum
Biokimia Umum, Laboratorium Biokimia, Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Warisno,
2002. Biokimia Universitas. Erlangga. Jakarta .
Weinberg. 2003.
Dasar – dasar biokimia, jilid 2. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Wiwarno,
2000. Intisari Biokimia. Gramedia. Jakarta.
Yuntus.2001. Pengantar
Praktikum Kimia organik. Depdikbud dirjen Pendidikan Tinggi. Yogyakarta.
Yuris,Brin.2000.
Pengantar Praktikum Kimia organik. Depdikbud dirjen Pendidikan Tinggi. Yogyakarta.
Zandrius.
2001. Laporan Biokimia lipida. http://sukseskimia-sukseskimia.blogspot.com. (12
April 2015).